Senin, 29 November 2010

Baju Muslim Ala Artis Kerap Di Cari


Manohara Odelia Pinot dan Pasha Ungu sedang tenar di Pasar Tanah Abang. Gamis dan tunik yang pernah mereka pakai rupanya sedang dicari-cari.Seperti pengakuan beberapa penjual baju muslim di Pasar Tanah Abang, Anti (20) yang mengaku mendapat pesanan Model Baju Muslim Terbaru ala Manohara.

"Kalau baju gamis Manohara selalu dipesan terus. Kalau stok disini habis pasti kita

akan pesan lagi," ujar penjual baju muslimah Anti (20) kepada detikRamadan di Pasar Tanah Abang, Jakarta PusatMenurut Anti, Pesanan terhadap baju gamis Manohara tersebut juga datang dari luar Kota Jakarta.

"Sudah ada beberapa kota yang memesan model seperti ini. Salah satunya sudah ada dari Lombok," ungkapnya.Sementara itu, pedagang baju lainnya, Ahmad (32) juga mengakui bahwa selain gamis Manohara, baju para artis dan publik figur lainnya banyak dicari pembeli.

"Kemarin juga banyak yang memesan baju gamis model Jusuf Kalla dan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Artis lainnya seperti Pasha Ungu," tuturnya.Ahmad memperkirakan, untuk Ramadan dan natal kali ini akan didominasi oleh baju gamis Manohara. "Pasti dekat Natal nanti maka akan laku keras penjualannya," pungkasnya.

Sumber

Muslimah di Eropa,Modis Tapi Tetap Islami


Meski menghadapi tantangan hidup di negara yang menganut sekularisme, di mana jilbab masih di larang di sebagian sekolah-sekolah milik pemerintah, Muslim Eropa mampu memberikan pengaruhnya lewat busana Muslim.

“H&M dan semua toko-toko di Prancis mengambil baju muslim kami, ” kata Mahika, Muslimah berusia 24 tahun yang tinggal di Paris. H&M atau Hennes & Mauritz adalah perusahan pakaian terkenal dari Swedia.

Sementara itu Ouslhgozi Jkrom pemilik toko pakaian mengatakan, busana yang sedang populer saat ini adalah busana dengan hiasan payet dan manik-manik. “Sedangkan warna yang banyak diminati adalah warga oranye, ” kata Jkrom sambil memperlihatkan koleksi pakaian dan jilbab dengan warna-warna cerah yang ada di tokonya. “Saya melihat bahwa sangat mudah berbusana di sini, semua model pakaian ada di kota, ” kata Bushra Sayed yang tinggal di Rotterdam, Belanda.

Dengan mengenakan jilbab berwarna coklat tua, rok jeans dan baju panjang, Bushra meyakini bahwa agama dan gaya berbusana, bisa berjalan beriringan.

“Saya seorang Muslim, tapi saya juga orang yang sangat tertarik dengan dunia fashion. Dan saya ingin mengombinasikan semua ini. Persoalannya cuma kombinasi, semuanya akan mudah jika Anda melihat pengaruh cara berbusana kami ke cara berbusana pada umumnya, ” papar Bushra.

Bushra mengaku tetap mengikuti perkembangan busana, tanpa harus melanggar aturan berbusana seperti yang diajarkan dalam Islam.

“Bagi saya, sangat penting untuk menutup tubuh saya, kecuali tangan, telapak kaki dan wajah. Dengan prinsip itu, saya tetap bisa mengenakan apapun yang ingin saya kenakan, asalkan tidak terlalu ketat dan pendek, ” tukasnya.

“Ibu saya, teman-teman dan kerabat sangat antusias dan saya tidak perlu repot soal gaya saya, ” sambungnya.

Sumber

Pemahaman Bergamis Dan Berbaju Muslim


Jika anda pernah pergi ke negara arab,maka anda tidak akan aneh lagi melihat orang menggunakan kondura atawa gamis.pakaian ini adalah Busana Muslim khas arab. Jika di tanah air gamis selalu identik dengan kyai atawa imam masjid,maka di tanah arab,orang nonton bola juga pake gamis,kalo anda jalan-jalan ke city center dubai untuk nonton bioskop maka anda akan melihat orang arab berseliweran dengan mengenakan gamis jadi sebenarnya gamis adalah budaya arab

Tapi berbeda dengan pakaian profesi,pakaian ala ustadz atawa kyai tanah air yang sering di manfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,dan celakanya banyak orang kita yang beranggapan bahwa orang yang menggunakan gamis itu identik dengan orang -orang ektrim,keras dan cap-cap negatif lainnya.apalagi kalau yang bersangkutan berjenggot,wah udah aja pikiran kita langsung ke arah yang enggak-engak.

padahal bisa jadi orang yang menggunakan baju biasa,justru lebih berbahaya karena sulit untuk di kenali,saat ini kita hidup dalam dunia yang penuh dengan penjungkirbalikan fakta.orang yang sebenarnya baik di anggap berbahaya,sedangkan orang yang sebenarnya berbahaya malah di anggap sebagai dewa.

betapa banyak muslimah saat ini yang berpakain tetapi sebenarnya ”telanjang”dengan pakaian yang serba mini dan sexi mengundang birahi kaum lelaki hidung zebra.jangan salahkan kaum laki-laki jika mereka punya victor ( vikiran kotor ) ketika melihat anda berlengak-lenggok seperti pragawati.akhirnya moga aja kedewasaan kita semakin bertambah,dan kita bisa semakin arif untuk membaca ”tanda” yang menyinggahi kehidupan kita.sehingga tidak terlalu cepat menilai seseorang hanya karena pakain yang di kenakannya.

Sumber

Jilbab: Citra Intelektual dan Spiritual


Fenomena jilbab akhir-akhir ini semakin marak. Gelombang fenomena ini semakin terasa pada kampus-kampus yang berkonotasi pada kam-pus "sekuler" atau "tidak Islami". Dalam satu sisi pandang, jelas ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Karena, paling tidak ini menjadi suatu cermin korektif betapa kesadaran akan penghayatan keberagamaan secara lebih mendalam menjadi suatu kebutuhan yang esensial dalam menghadapi arus zaman sekarang ini.

Berjilbab, dalam tatapan ekologis dan kosmologis, merupakan suatu perlawanan dan penolakan terhadap perkembangan budaya asing yang mewabah di negeri ini. Dengan berjilbab, ada semacam proses identifikasi untuk menjadi Muslimah sejati.

Penulis The Tao of Islam, Sachiko Murata, men-jelaskan dengan sangat menarik perihal kepentingan kaum wanita Muslimah menutupi aurat mereka. Tulisnya, "Keindahan dan kecantikan Tuhan termanisfestasi dalam diri wanita. Semakin wanita tersebut menjaga keindahan dan kecantikannya, maka dalam tatapan kosmologis, wanita tersebut seolah-olah menutupi Keindahan dan Kecantikan Tuhan."

Sayang, kesadaran wanita yang berjilbab itu belum sampai ke arah seperti itu. Pada dataran praktis, masih banyak terjadi percampuran budaya Barat de-ngan budaya Islam. Ataupun, ketidakmampuan untuk mengendalikan keinginan diri. Misalnya, sebagian wanita sudah menge-nakan kerudung atau jilbab serta busana muslim, tapi bajunya terbuat dari kain yang tipis yang tentu saja mem-bentuk tubuhnya yang indah. Jelas, hal ini kurang memenuhi ke-sempurnaan perintah syariat.

Sumber

Busana Muslim Mampu Kurangi Syahwat


Sebenarnya busana Muslim sangatlah indah, jika seorang wanita mengenakannya maka akan menambah keanggunan dan martabatnya. Secara kasat mata, si wanita tersebut seolah-olah mengumumkan bahwa “saya seorang Muslimah, saya tidak mengumbar aurat sembarangan kepada dunia, kecuali kepada suami sendiri”. Alhamdulillah sejauh ini minat kaum Muslim terhadap busananya masih terbilang tinggi.

Walaupun cukup disayangkan, karena ada sebagian kaum Muslim yang mengenakan busana Model Baju Muslim hanya untuk waktu-waktu tertentu, contohnya seperti perayaan hari besar (Ied Fitri dan Ied Adha), pergi ke Masjid, Mushola dan Surau atau acara Nikahan, setelah itu mereka kembali kepada baju modernnya sebagai ciri khas kesehariannya.

Ada juga sebagian kaum Muslimah yang mengenakan busana Muslim, seperti Jilbab untuk menutupi kekurangan pada rambutnya yang tidak elok, namun tubuhnya di tutupi oleh kaos ketat (hingga bagian pinggang & pusernya terlihat dan bagian buah dadanya menyumbul) dan kakinya di baluti celana jeans ketat hingga lekuk pinggang hingga kakiknya terlihat jelas. Muslimah jenis ini cocok dengan ungkapan, leher keatas melihat surga, leher kebawah neraka!

Sebagai pria yang sehat dan punya kebutuhan seksual, maka wajar jika ia tergoda, karena pria tersebut punya hawa nafsu. Karena ia melihat pemandangan yang menantang nafsunya, lain halnya jika si wanita berpakaian tertutup (baca pakaian Muslimah), namun masih juga di perkosa, baru tepat jika si pria di cap berfikiran kotor dan mesum.

Wanita yang berpakaian sexy dalam bentuk apapun maka ia tidak menjaga tubuhnya dari ancaman pemerkosaan, kejahatan tidak hanya niat dari pelakunya tapi kesempatan yang muncul dihadapan si pelaku (pinjem kata-kata bang Napi!). Dan ini tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia untuk berseksi ria atau bertelanjang ria di muka publik. Manusia bukan untuk memamerkan tubuhnya! Tapi menjaganya dari ancaman kejahatan, dimulai dari diri sendiri!

Kita bukan mahluk purba jaman doeloe yang masih bertelanjang badan dalam keseharian, namun kita sudah beradab, maka berpakaianlah sesuai tuntunan agama kamu, jika kamu mau selamat dunia dan akhirat…Amiiin

Sumber